Intruksi Wabup, M.Kayan Bergerak Cepat Aktifkan Kopdes Merah Putih Di Wilayah Barat

Read Time:1 Minute, 42 Second

SIDOARJO (liputansidoarjo.com)- Operasional koperasi merah putih di Kabupaten Sidoarjo, mengalami keterlambatan .

Ratusan desa tercatat belum bisa memulai aktifitas Koperasi Merah Putih (KPM).

Angka tersebut muncul karena adanya berbagai hambatan teknis yang membuat proyek nasional ini tidak bisa berjalan serentak di total 346 wilayah desa dan kelurahan yang ada.

Seperti penolakan dari warga karena masalah lahan, maupun masalah anggaran untuk pengadaan barang untuk koperasi

Menyadari ini, M.Kayan wakil ketua DPRD Sidoarjo dari Partai Gerindra, setelah mendapatkan arahan dari wakil bupati Sidoarjo Mimik Idayana, bergerak cepat mengumpulkan seluruh Kades khususnya di wilayah Sidoarjo barat.

“Kita gelar rapat kordinasi dengan seluruh kepala desa di tujuan Kecamatan di wilayah Sidoarjo barat, untuk mempercepat proses pembentukan koperasi merah putih,” ujar Kayan.

Menurut Kayan, Sidoarjo ini masuk dalam kategori kabupaten yang terlambat membentuk Koperasi merah putih dari seluruh Kabupaten kota di Jawa Timur.

“Kita urutan ketiga dari belakang, yang belum sepenuhnya mengoptimalkan koperasi desa merah putih. Karena itu atas arahan dari wakil bupati Sidoarjo, kita bergerak cepat menuntaskan desa yang belum aktif koperasi merah putihnya,” ungkap Kayan.

Dari data yang ada, dari sekitar 345 koperasi merah putih yang ada, hanya sebanyak 95 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) resmi beroperasi dan mulai menggerakkan berbagai sektor usaha rakyat.

Dari simpan pinjam, toko sembako, hingga peternakan, koperasi ini hadir untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo, Muhammad Edi Kurniadi, mengatakan bahwa secara keseluruhan terdapat 346 Koperasi Merah Putih di Sidoarjo. Rinciannya, 28 koperasi di kelurahan dan 318 koperasi di desa.

Seluruhnya telah memiliki badan hukum, termasuk Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diselesaikan sejak diluncurkan pada Juli 2025 lalu.

“Semua koperasi sudah berbadan hukum dan siap beroperasi. Saat ini 95 di antaranya sudah mulai menjalankan usaha,” ujar Edi.

Jenis usaha yang dijalankan pun beragam. Ada koperasi yang fokus pada usaha simpan pinjam, toko atau gerai sembako, hingga peternakan ayam dan layanan laku pandai.

Dari berbagai jenis itu, kata Edi, kebanyakan koperasi lebih dulu mengawali usahanya di sektor sembako karena kebutuhan masyarakat yang tinggi. (Abidin)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *